Rupiah Terpuruk, ASEAN Gusar, Trump Main Tarif, Prabowo dan Pemerintah Cari Solusi!

AKURAT SUMUT - Dalam suasana Lebaran yang penuh keberkahan, Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menggelar pertemuan tingkat tinggi di kediaman resmi PM di Kompleks Seri Perdana, Putrajaya.
Keduanya menyempatkan diri membahas dampak kebijakan tarif impor baru yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, serta langkah-langkah bersama untuk memberikan bantuan kepada korban gempa di Myanmar.
Pembahasan Dampak Tarif Impor dan Isu Regional
Dalam pertemuan tersebut, PM Anwar mengungkapkan,
“Dalam suasana Lebaran yang penuh keberkatan saya telah menerima kunjungan silaturahim daripada sahabat lama yang juga Presiden Indonesia yakni Bapak Prabowo Subianto lewat petang tadi,”kata Anwar dalam Bahasa Melayu.
Kedua pemimpin tersebut kemudian membahas secara mendalam dampak tarif baru yang diberlakukan AS terhadap negara-negara ASEAN.
Meskipun rincian isi pembicaraan mengenai tarif belum diungkap secara spesifik oleh kedua pihak, pertemuan tersebut menegaskan pentingnya koordinasi dan kerja sama dalam merespons kebijakan yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi regional.
Respons Terhadap Kebijakan Tarif dan Dampak Ekonomi
Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan kebijakan tarif resiprokal pada 2 April 2025, yang diberlakukan secara bertahap.
Tarif umum 10 persen berlaku sejak 5 April 2025, sedangkan tarif khusus mulai diterapkan pada 9 April 2025 untuk sejumlah negara, termasuk Indonesia dan beberapa negara ASEAN.
Secara spesifik, tarif resiprokal untuk Indonesia mencapai 32 persen, sementara negara-negara lain seperti Filipina, Singapura, Malaysia, Kamboja, Thailand, dan Vietnam masing-masing terkena tarif dengan persentase berbeda.
Pengamat pasar uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengungkapkan kekhawatirannya terkait pelemahan nilai tukar rupiah yang dipicu respons negatif dari pasar internasional.
"Sentimen negatif dari pengumuman kebijakan tarif Trump yang direspons negatif oleh negara-negara yang dinaikkan tarifnya menjadi pemicu utama pelemahan rupiah," ujar Ariston.
Menurutnya, keengganan pasar terhadap aset berisiko, diperparah oleh data nonfarm payrolls AS yang lebih baik dari proyeksi, turut memperlemah rupiah.
Pada pembukaan perdagangan Senin pagi di Jakarta, nilai tukar rupiah tercatat melemah sebesar 1,51 persen menjadi Rp16.904 per dolar.
Upaya Diplomasi dan Langkah Balasan Indonesia
Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan sejumlah paket negosiasi untuk dibawa ke Washington D.C. guna menghadapi kebijakan tarif resiprokal AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa strategi diplomasi menjadi pilihan utama tanpa mengambil langkah retaliasi yang drastis. Ia menambahkan,
“Tunggu besok jam satu, di acara Bank Mandiri Bapindo. Karena yang akan menyampaikan langsung itu Pak Presiden,”
kata Airlangga saat rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Dalam pertemuan lanjutan yang dijadwalkan pada 10 April 2025, Indonesia akan mengajak pemimpin negara-negara ASEAN untuk menyamakan sikap dan memformulasikan kesepakatan bersama.
Langkah strategis lainnya antara lain meliputi revitalisasi perjanjian kerja sama perdagangan dan investasi (TIFA) yang semula ditandatangani pada tahun 1996, pengajuan proposal deregulasi Non-Tariff Measures (NTMs), serta peningkatan impor dan investasi dari Amerika Serikat (AS) melalui pembelian migas.
Airlangga juga menyinggung tentang kemungkinan insentif fiskal dan non-fiskal seperti penurunan bea masuk, PPh impor, atau PPN impor untuk menjaga daya saing ekspor ke AS.
Di sela-sela pembahasan isu ekonomi, PM Anwar juga menegaskan komitmennya untuk menjaga hubungan persaudaraan yang erat antara Indonesia dan Malaysia.
"Semoga semangat aidilfitri terus memperkuat hubungan persaudaraan dan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia atas nama keamanan dan kesejahteraan serantau," ungkap Anwar setelah pertemuan dengan Prabowo.
Pertemuan yang berlangsung hangat ini juga disorot dari momen kebersamaan yang tertuang dalam foto-foto di mana Presiden Prabowo mengenakan atasan batik dan kopiah, menambah nuansa kearifan lokal dalam diplomasi antarnegara.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan PM Anwar menandakan langkah proaktif kedua negara dalam menghadapi tekanan ekonomi global yang semakin kompleks.
Dengan mengedepankan diplomasi dan koordinasi regional, Indonesia dan Malaysia siap merumuskan strategi bersama dalam menghadapi kebijakan tarif impor AS, sambil menjaga stabilitas ekonomi dan hubungan persaudaraan di kawasan ASEAN.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









