68,5 Kg Mie Berformalin Ditemukan di Pasar Pangururan, Ini Tanggapan Diskopnakerindag Samosir

AKURAT SUMUT - Pihak Dinas Koperasi, Tenaga Kerja, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopnakerindag) Samosir, Sumatera Utara menemukan temuan mengkhawatirkan di pusat Pasar Pangururan.
Pengelola pasar mengungkapkan bahwa sebanyak 68,5 kilogram mie basah terindikasi mengandung formalin, zat kimia berbahaya yang seharusnya tidak ada dalam makanan. Penemuan ini terjadi pada Rabu (9/4/2025) dan melibatkan delapan pedagang pengecer.
Rincian Penemuan dan Hasil Pengujian
Menurut Kabid Perindustrian dan Perdagangan Diskopnakerindag Samosir, Boyke Situmorang, pemeriksaan menggunakan test kit formalin menghasilkan dua kali pengambilan sampel; semalam berhasil disita 28,5 kilogram dan hari berikutnya sebanyak 40 kilogram. "Ada sekitar 68,5 kilogram mie basah yang kami amankan dari delapan pedagang pengecer dengan melakukan pengecekan menggunakan test kit formalin (uji cepat)," ucap Boyke dengan tegas.
Penemuan ini terjadi sebagai bagian dari proses monitoring rutin di pasar, di mana petugas pasar melakukan pemeriksaan langsung terhadap dagangan yang dijual oleh para pedagang.
Meskipun bahan berbahaya telah terdeteksi, pihak Diskopnakerindag memutuskan untuk terlebih dahulu melakukan pembinaan agar para pedagang tidak lagi membeli produk dari pemasok yang sama, yang diduga berasal dari luar Samosir.
Boyke Situmorang menekankan pentingnya pembinaan kepada para pedagang yang ternyata secara tidak sengaja membeli mie berformalina.
"Kami memberi arahan agar mereka tidak lagi belanja dari pembagi yang sama. Kita paham kondisi mereka yang tidak sengaja menjual mie tersebut tanpa mengetahui asal usulnya di mana diproses. Saat disita tadi, mereka juga kooperatif tidak keberatan saat mengetahui dagangannya mengandung formalin," jelasnya.
Dalam upaya mencegah kejadian serupa di masa depan, petugas pasar diwajibkan untuk memeriksa setiap sampel mie yang diterima dari pemasok.
"Mereka (pedagang) tidak punya alat uji, jadi kami sampaikan agar menyerahkan sampelnya kepada petugas pasar segera setelah belanja," tambah Boyke.
Selain penjelasan dari Boyke, Kadis Diskopnakerindag Samosir, Rista Sitanggang, mengungkapkan bahwa temuan tersebut merupakan hasil dari monitoring rutin mingguan.
"Sesuai juga dengan jadwal BPOM yang hadir waktu itu, ternyata ada terdeteksi (mengandung formalin). Barang bukti juga sudah disita oleh pihak terkait," kata Rista.
Barang bukti mie berformalina tersebut telah diserahkan ke BPOM untuk pengujian lebih lanjut.
Berdasarkan keterangan sementara, diduga mie tersebut diperoleh dari pemasok di kota Pematangsiantar.
Meski demikian, penyelidikan lanjutan masih terus dilakukan untuk memastikan jalur distribusi dan pemasok utama yang terlibat.
Bahaya Formalin dalam Pangan
Formalin merupakan larutan yang mengandung formaldehida, suatu zat kimia yang umumnya digunakan sebagai bahan pengawet mayat dan dalam berbagai proses industri.
Penggunaan formalin dalam makanan sangat dilarang karena sifatnya yang karsinogenik dan berpotensi merusak organ vital seperti hati dan ginjal.
Konsumsi jangka panjang zat ini juga dapat menimbulkan iritasi pada mulut dan tenggorokan, serta menyebabkan mual, muntah, dan diare.
Cara Membedakan Mie yang Mengandung Formalin
1. Tekstur dan Tampilan:
Mie yang telah dicampur formalin biasanya terasa lebih kenyal dan tidak lengket seperti mie segar. Warnanya pun tampak lebih cerah dan mengkilap.
2. Bau:
Mie berformalin cenderung memiliki aroma khas zat kimia yang berbeda dari bau mie segar.
3. Daya Tahan:
Mie yang mengandung formalin dapat bertahan lebih lama pada suhu ruangan tanpa cepat rusak atau basi.
4. Perubahan Saat Direbus:
Saat direbus, airnya mungkin berubah warna atau mengeluarkan bau yang tidak biasa, mengindikasikan adanya bahan pengawet.
Alasan Oknum Mencampur Formalin dalam Mie
1.Memperpanjang Umur Simpan:
Formalin digunakan agar mie tidak cepat rusak dan bisa dijual dalam jangka waktu yang lebih lama tanpa perlu pendingin.
2. Menambah Daya Tarik Penampilan:
Penggunaan formalin membuat mie tampak lebih cerah dan kenyal, sehingga terlihat lebih menarik bagi pembeli.
3. Keuntungan Ekonomi:
Dengan mie yang tahan lama, penjual berharap bisa mengurangi risiko kerugian akibat mie yang basi, sehingga mereka dapat memperoleh keuntungan lebih besar.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Sejumlah Siswa SD Diduga Jadi Korban Pelecehan Guru di Deli Serdang
- 2Kepala Sekolah SD di Deli Serdang Akui Fasilitasi Damai Bermaterai Kasus Pelecehan 8 Siswa oleh Oknum Guru
- 3Skandal Anggaran Pendidikan Labuhanbatu: BPK Turun Tangan Usai Puluhan Miliar Rupiah Dana Sekolah Tercatat Nol Persen
- 4Bibit Siklon Tropis 91B Terdeteksi di Utara Aceh: BMKG Imbau Warga Waspada Angin Kencang dan Hujan Lebat
- 5Prakiraan Cuaca Kota Medan dan Sekitarnya Sepekan ke Depan, Dominasi Kondisi Berawan hingga Potensi Hujan Ringan
- 6Gudang Narkoba Internasional di Gerebek, 3 Kg Sabu, 10.000 Pil Ekstasi dan 1.778 Pod Disita
- 7Satresnarkoba Polrestabes Medan Gerebek Gudang Penyimpanan Narkoba Berkedok Kandang Ayam, 18 Kg Ganja Disita
- 8Prakiraan Cuaca Labuhanbatu Hari Ini: Waspada Hujan Ringan, Udara Kabur dan Tips Berkendara
- 9354 Siswa di Berastagi Keracunan Menu MBG: 110 Dirawat Inap, BGN Resmi Suspend Dapur SPPG Sempajaya
- 10Diduga Jual Beli Jabatan, Wali Kota Medan Rico Waas Bebastugaskan Camat Medan Timur





