Sumut

Karhutla Sumatera Meluas, 17 Titik Panas Terdeteksi, 180 Hektare Hutan Terbakar!

Kurnia | 12 Juli 2025, 00:33 WIB
Karhutla Sumatera Meluas, 17 Titik Panas Terdeteksi, 180 Hektare Hutan Terbakar!

AKURAT SUMUT - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengancam wilayah Sumatera? Pada Rabu malam, 9 Juli 2025, BNPB mencatat dua kejadian baru di Sumatera Utara dan Sumatera Barat dengan total kerugian lahan mencapai empat hektare.

Sementara itu, BMKG Pekanbaru masih melihat 30 titik panas menandakan potensi kebakaran lanjutan.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, melalui keterangan tertulis pada Kamis, 10 Juli 2025, menjelaskan bahwa tim menerima laporan titik api di Desa Sigama, Kecamatan Padang Bolak, Padang Lawas pada pukul 19.00 WIB.

“Tercatat sedikitnya dua hektare lahan terbakar dari kejadian ini,” ujarnya. Api berhasil dipadamkan dua setengah jam kemudian, tepat pada pukul 21.30 WIB setelah petugas gabungan dan masyarakat setempat bergerak cepat.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, dalam keterangan yang sama, menegaskan bahwa pada sore harinya tim juga melaporkan kebakaran di Kenagarian Painan Selatan, Kecamatan IV Jurai, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Baca Juga: Kebakaran Besar Guncang Jalan Merdeka Padangsidimpuan, Damkar Kerahkan 6 Unit Mobil

“Peristiwa itu juga melahap dua hektare lahan sebelum berhasil dipadamkan berkat gotong‑royong tim gabungan dan masyarakat,” tandasnya.

Sebelumnya, karhutla sudah merebak lebih luas di beberapa kabupaten Sumut sejak awal Juli.

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati, melansir laporan resmi Pusdalops PB Sumut pada Rabu, 9 Juli 2025, mengatakan bahwa tiga kabupaten, Simalungun, Samosir, dan Nias Utara telah terdampak.

“Lahan seluas 1,5 hektare di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun, telah dipadamkan, dan kami terus memantau titik api di Samosir dan Nias,” katanya.

Dari kawasan Danau Toba, Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia Wilmar Eliazer Simandjorang, ditemui usai konferensi pers pada Kamis, 10 Juli 2025, menegaskan bahwa kebakaran tahunan ini menghancurkan ekosistem dan mengancam tanaman endemik serta satwa langka.

“Kebakaran di Geosite Tele, Pusuk Buhit, dan Silalahi telah merusak lebih dari 180 hektare hutan lindung,” tandasnya sambil menunjukkan peta sebaran area terdampak.

Wilmar mendesak pemerintah provinsi menanam pohon tahan api seperti makadamia dan membangun sistem hidran air di lereng curam.

Di sisi teknis, Kepala Bidang Perlindungan, Penegakan Hukum, dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Sumut Zainuddin Harahap, dalam wawancara singkat di Kantor Dinas LHK Sumut, mengaku tantangan terbesar adalah akses sulit ke bukit terjal.

“Petugas sering harus berjalan kaki berjam‑jam untuk menjangkau titik api,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa patroli rutin dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan perlu diperkuat.

Memperkuat peringatan tersebut, Petugas BMKG Pekanbaru Deby, di Stasiun BMKG Pekanbaru, menyatakan bahwa 30 titik panas terdeteksi oleh satelit pada Jumat, 11 Juli 2025, 17 di Sumut, 8 di Riau, 2 di Sumbar, 2 di Lampung, dan 1 di Jambi.

“Keberadaan titik panas ini bisa menjadi indikasi awal potensi karhutla,” ujarnya. BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan sembarangan, terutama saat musim kemarau seperti ini.

Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk mencegah karhutla semakin meluas? BNPB mengingatkan pentingnya membersihkan saluran drainase, menyiapkan area penampungan air, memangkas dahan pohon yang rentan roboh, serta menyusun rencana darurat dan evakuasi.

Mitigasi jangka panjang juga mencakup penanaman vegetasi tahan api dan pembangunan hidran di lokasi rawan.***

 

 
 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I