Sumut

Pasar Gemetar, Investor Diuji! IHSG Rontok, Saham Gainers Mencuat

Kurnia | 8 April 2025, 15:30 WIB
Pasar Gemetar, Investor Diuji! IHSG Rontok, Saham Gainers Mencuat

AKURAT SUMUT - Setelah libur panjang Lebaran, pasar saham Indonesia membuka perdagangan dengan tekanan yang signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 9% di pagi perdagangan, memicu kekhawatiran sekaligus imbauan agar pelaku pasar tetap tenang dan rasional dalam menanggapi fluktuasi awal.

Imbauan untuk Tetap Rasional

Reza Priyambada, Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk, mengimbau para pelaku pasar agar tidak mudah panik dengan kondisi pasar saat ini.

Ia menegaskan bahwa kenaikan atau penurunan saham merupakan hasil dari penilaian para investor yang melihat sentimen di pasar secara langsung.

“Jangan overpanic dengan kondisi ini. Naik turunnya market terjadi karena persepsi para pelaku pasar dalam menilai sentimen yang ada di depan mata. Para pelaku pasar lah yang membuat IHSG dan saham-saham di dalamnya naik dan turun, bukan karena sentimen semata,” ungkap Reza di Jakarta.

Ia juga menyarankan investor, terutama ritel, untuk tidak terlalu terpengaruh oleh sentimen negatif yang belum tentu mencerminkan kondisi fundamental emiten.

Bagi yang masih ragu, ia menyarankan mempertimbangkan instrumen berisiko rendah seperti reksa dana pasar uang dan obligasi sebagai alternatif sementara.

Tekanan Eksternal dan Respons Pasar Global

Kondisi pasar global yang bergolak turut mempengaruhi pasar domestik, terutama setelah pengumuman tarif impor baru oleh Pemerintah Amerika Serikat.

Kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan AS dan respons kebijakan retaliasi oleh China, serta potensi aksi pembalasan tarif dari negara lain seperti Kanada, telah mengakibatkan gejolak di pasar keuangan global.

Menurut Ariston Tjendra, Pengamat Pasar Uang sekaligus Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, aksi beli pada saat harga turun di bursa saham Asia dapat memberikan sinyal positif bagi aset berisiko meskipun tekanan pasar masih terasa pekan ini.

Ia menambahkan bahwa sentimen tersebut berpeluang menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah, dengan prediksi nilai pembukaan berada di sekitar Rp16.800 per dolar AS dan berpotensi pulih hingga sekitar Rp16.700 di akhir perdagangan.

Intervensi Bank Indonesia

Menanggapi tekanan di pasar off-shore, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 7 April 2025 memutuskan untuk melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar rupiah.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa intervensi di pasar non-deliverable forward (NDF) dilakukan karena adanya tekanan yang terjadi selama libur panjang Lebaran.

Ramdan juga mengungkapkan bahwa BI akan memperkuat intervensinya di pasar domestik sejak awal pembukaan perdagangan pada 8 April 2025 melalui aksi di pasar valas (spot dan DNDF) serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, optimalisasi instrumen likuiditas rupiah juga dilakukan untuk menjaga kestabilan pasar uang dan perbankan domestik.

“Serangkaian langkah-langkah Bank Indonesia ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia,” jelas Ramdan.

Dinamika Perdagangan Saham

Pada awal perdagangan, IHSG dibuka melemah 596,33 poin atau 9,16 persen ke posisi 5.914,28. Tak lama kemudian, nilai IHSG turun lebih lanjut 598,56 poin atau 9,19 persen, disertai dengan terjadinya trading halt sebagai upaya mekanisme pasar untuk mencegah penurunan yang berlebihan.

Data perdagangan mencatat volume transaksi mencapai 1,59 miliar saham dengan turnover sebesar Rp1,92 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 64.620 kali.

Dalam transaksi tersebut, tercatat 9 saham mengalami kenaikan, 552 saham menurun, dan 65 saham tetap stagnan.

Selain itu, sejumlah saham tampil sebagai top gainers meskipun pasar secara keseluruhan mengalami tekanan. Berikut adalah daftar 10 saham dengan kenaikan tertinggi:

  • PT Shield On Service Tbk (SOSS): Rp 464 (+24,73%)

  • PT Tunas Alfin Tbk (TALF): Rp 304 (+11,76%)

  • PT KDB Tifa Finance Tbk (TIFA): Rp 825 (+10,00%)

  • PT MDTV Media Technologies Tbk (NETV): Rp 157 (+9,79%)

  • PT Indo Straits Tbk (PTIS): Rp 236 (+9,26%)

  • PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA): Rp 6.450 (+6,61%)

  • PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV): Rp 100 (+5,26%)

  • PT Ifishdeco Tbk (IFSH): Rp 755 (+4,86%)

  • PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI): Rp 1.260 (+4,13%)

  • PT Estika Tata Tiara Tbk (BEEF): Rp 206 (+3,00%)

Pergerakan IHSG menunjukkan tren penurunan dalam beberapa periode; dalam sepekan terakhir, indeks mengalami pelemahan sebesar 5,53%, satu bulan terakhir turun 5,72%, tiga bulan sebesar 16,82%, enam bulan 24,51%, year-to-date (YTD) melemah 16,50%, dan selama setahun penurunan mencapai 18,96%.

Meski pasar mengalami tekanan yang signifikan, para pelaku pasar dan regulator berupaya untuk menjaga stabilitas dan mengembalikan kepercayaan investor.

Reza Priyambada dan Ariston Tjendra sepakat bahwa meskipun terdapat gejolak global dan dampak kebijakan tarif impor, optimisme terhadap pasar harus tetap dijaga.

Investor didorong untuk mengambil keputusan berdasarkan analisis fundamental dan situasi pasar yang lebih luas, bukan hanya tergiur oleh kepanikan sesaat.

Dengan langkah intervensi dari BI dan perbaikan likuiditas pasar, diharapkan kondisi pasar mampu segera pulih dan memberikan peluang investasi yang lebih stabil.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

K
Reporter
Kurnia
I