Glamor tapi Kejam? Kasus Oh Yoanna Ungkap Fakta Perundungan di Industri Korea

AKURAT SUMUT - Sama seperti gemerlapnya KPOP kontroversinya pun tak kalah gelap. Dunia hiburan Korea kembali berduka setelah kabar meninggalnya penyiar cuaca MBC, Oh Yoanna (27), yang diduga akibat tekanan perundungan di tempat kerja.
Keluarganya, melalui wawancara eksklusif dengan media Dispatch, mengungkapkan perjuangan panjang yang dialami almarhumah sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya pada 28 September 2024
Tragedi ini memantik gelombang simpati sekaligus kritik keras terhadap sistem kerja di industri media Korea, terutama menyusul temuan bahwa tiga rekan kerja yang diduga terlibat dalam intimidasi masih aktif tampil di layar kaca.
Perjuangan Diam-Diam Sebelum Tragedi
Menurut keterangan ibu Yoanna kepada Dispatch, putrinya kerap menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari senior di kantor.
“Dia pulang dengan mata sembab hampir setiap hari. Saat ditanya, Yoanna hanya bilang lelah. Kami tidak menyadari betapa dalam lukanya,” ujarnya dengan suara bergetar.
Ibu tersebut menjelaskan bahwa Yoanna kerap mendapat tugas di luar job desk, seperti membeli kopi atau membersihkan ruangan, meski statusnya sebagai penyiar profesional.
Selain itu, beberapa kolega dilaporkan mempermalukannya secara verbal terkait penampilan dan kemampuan membawakan berita.
Dilansir dari All Kpop Seorang rekan kerja Yoanna yang enggan disebut namanya mengkonfirmasi situasi toxic tersebut. “Ada hierarki yang sangat kaku. Senior merasa berhak mengatur junior sesuka hati, bahkan sampai mengintervensi kehidupan pribadi,” jelasnya.
Menurut sumber tersebut, Yoanna sempat mengajukan keluhan ke divisi SDM, tetapi tidak ditindaklanjuti. Alih-alih mendapat perlindungan, insiden perundungan justru semakin intens.
Catatan pribadi Yoanna, yang dibagikan keluarganya kepada media, menjadi bukti krusial.
Dalam salah satu entri, ia menulis, “Hari ini Ji-hoon sunbaenim kembali meneriaki saya karena kopi yang saya beli ‘terlalu dingin’. Dia melempar gelas itu ke tempat sampah dan menyuruh saya membeli ulang. Saya menangis di kamar mandi selama 30 menit.”
Seorang rekan kerja Yoanna yang bersedia menjadi saksi anonim juga mengkonfirmasi pola intimidasi yang dilakukan Lee Min-seo.
“Lee sunbaenim selalu mengkritik cara Yoanna berdandan atau berbicara dengan nada menghina. Pernah suatu kali, dia berkata, ‘Dasar beban tim, kau membuat kami semua malu!’ di depan seluruh kru,” ungkap sumber tersebut.
Kontroversi Keberadaan Terduga Pelaku
Fakta pahit terungkap setelah publik menyadari bahwa 3 rekan kerja Yoanna yang diduga sebagai pelaku intimidasi masih tetap muncul dalam program ramalan cuaca MBC.
Keberadaan mereka di layar televisi memicu kemarahan warganet. Sebuah petisi daring yang menuntut penghentian siaran para terduga pelaku telah mengumpulkan lebih dari 200.000 tanda tangan dalam seminggu.
MBC sendiri belum memberikan klarifikasi resmi, hanya menyatakan, “Kami sedang melakukan investigasi internal.” Sikap ambigu ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk asosiasi jurnalis Korea yang mendesak transparansi.
“Jika terbukti bersalah, pihak terkait harus dihukum sesuai aturan. Membiarkan mereka tetap bekerja adalah bentuk pengabaian terhadap korban,” tegas perwakilan asosiasi dalam konferensi pers.
Berdasarkan informasi dari pihak internal MBC yang dirahasiakan, ketiga individu tersebut diidentifikasi sebagai Kim Ji-hoon (32), Lee Min-seo (34), dan Park Hyun-woo (29).
Mereka disebutkan sebagai senior di divisi penyiaran yang secara struktural memiliki wewenang lebih tinggi daripada Yoanna.
Selama ini, identitas mereka sengaja ditutupi oleh media, tetapi kebocoran informasi dari pegawai MBC memicu kemarahan publik yang lebih luas.
Kim Ji-hoon, produser senior program cuaca, diduga kerap memberi tugas di luar kewajiban Yoanna, seperti memaksa almarhumah membersihkan ruangan produksi atau membelikan makanan tanpa alasan profesional.
Sementara itu, Lee Min-seo, penyiar cuaca berpengalaman, disebut secara verbal merendahkan penampilan dan kemampuan Yoanna di depan kru. Adapun Park Hyun-woo, asisten produser, dilaporkan mengirim pesan ancaman melalui platform internal perusahaan, termasuk ucapan seperti, “Kau tidak pantas berada di sini.”
Duka Keluarga dan Tuntutan Keadilan
Dalam wawancara yang sama, ibu Yoanna membagikan catatan harian putrinya yang berisi curahan hati tentang tekanan psikologis. “Saya tidak tahan lagi. Setiap hari seperti neraka,” tulis Yoanna di salah satu halaman.
Keluarga menduga kuat bahwa catatan ini menjadi bukti kunci hubungan antara lingkungan kerja yang tidak sehat dengan keputusannya untuk bunuh diri.
Melalui pengacaranya, keluarga Yoanna berencana melaporkan kasus ini ke Komisi Hak Asasi Manusia Korea.
Mereka juga mendesak MBC untuk meminta maaf secara terbuka dan mereformasi kebijakan internal. “Kami tidak ingin ada korban berikutnya. Perusahaan harus bertanggung jawab atas kelalaian yang terjadi,” tegas sang ibu.
Efek Domino di Kalangan Publik
Tragedi Yoanna menyadarkan publik akan fenomena gapjil (penyalahgaan kekuasaan) yang masih mengakar di banyak perusahaan Korea.
Tagar #JusticeForYoanna dan #StopWorkplaceBullying menjadi trending di platform X (sebelumnya Twitter), di mana netizen membagikan pengalaman serupa.
Salah satu cuitan viral menyatakan, “Ini bukan sekadar kasus individu, tapi cermin budaya kerja beracun yang harus diubah.”
Para aktivis hak pekerja menilai kasus ini bisa menjadi momentum untuk merevisi undang-undang ketenagakerjaan. “Korban perundungan seringkali tidak memiliki bukti konkret karena intimidasi bersifat verbal atau psikologis. Perlu sistem pelaporan yang lebih aman dan sanksi tegas,” papar Choi Min-ji, pegiat dari LSM Worker’s Voice.
Respons Industri dan Harapan ke Depan
Meski belum ada pernyataan resmi dari MBC, sejumlah stasiun televisi lain mulai mengambil langkah preventif.
Salah satunya dengan menyelenggarakan pelatihan anti-perundungan dan membuka saluran pengaduan independen. “Kami berkomitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif,” janji perwakilan SBS dalam siaran pers.
Di tengah tuntutan tersebut, keluarga Yoanna berharap kasus ini tidak berlalu begitu saja. “Yoanna adalah anak yang ceria dan penuh semangat. Kami ingin suaranya didengar, agar tidak ada lagi orang yang menderita seperti dia,” tutup sang ibu.
Tragedi ini mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap industri media, masih ada sisi kelam yang perlu diperbaiki.
Perubahan sistemik dan kesadaran kolektif menjadi kunci untuk mencegah terulangnya duka semacam ini di masa depan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





